Turut berduka cita bagi keluarga yang ditinggalkan....
Lagi, Mahasiswa UI Tewas Ditodong
Kompas, 11 April 2005.
Jakarta, Kompas - Deliu Aga Gunawan (21), mahasiswa Semester VI Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tewas secara mengenaskan dengan dua luka tusuk di perut dan pinggang, Sabtu (9/4) sekitar pukul 17.30. Deliu tewas diduga setelah menjadi korban penodongan ketika dalam perjalanan pulang dari kampusnya di Depok menuju rumah kosnya di Beji, tidak jauh dari kampusnya, melalui jalan pintas.
Hingga kemarin sore jenazah korban yang merupakan putra pasangan Liu Fok Fa (55) dan Yen Liecu (42) itu masih disemayamkan di Rumah Sakit Husada, Jakarta. Meski untuk sementara polisi menduga tewasnya Daliu akibat penodongan, polisi masih menelusuri kemungkinan motif lain.
Menurut cerita Lio Yan Cin (50), tante korban, biasanya korban pulang seminggu sekali ke rumahnya di Jalan Kampung Irian I RT 10 RW 06, Kelurahan Serdang, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Akan tetapi, pada Sabtu sebelum kejadian korban menghubungi orangtuanya dan mengabarkan bahwa pekan ini dia tidak akan pulang ke Kemayoran karena ada banyak tugas yang harus diselesaikan.
Selama ini, menurut Yan Cin, keponakannya itu dikenal aktif dalam berbagai kegiatan di kampus. Bahkan, sejumlah temannya menjuluki Daliu sebagai "Mr Beres", artinya setiap ada persoalan rumit yang tidak mudah diselesaikan, begitu Daliu datang, langsung bisa diselesaikan dengan baik.
Yan Cin mengungkapkan, tidak lama setelah terjadi pembunuhan itu petugas menemukan telepon seluler milik Daliu yang tersimpan di saku celananya, sedangkan dompet korban hilang, diduga dibawa pembunuhnya. Telepon seluler tidak ikut hilang diduga karena tersimpan di saku celana dan tidak diketahui oleh pelaku.
Sekadar mengingatkan, sebelumnya pada 27 Februari lalu Haryanto (22), mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), yang baru diwisuda tewas setelah dianiaya pencopet dalam kereta rel listrik jurusan Bogor-Jakarta. Haryanto dijambret dalam perjalanan pulang dari kampusnya di Depok, Jawa Barat, menuju rumahnya (Kompas, 28/2).
Teriak minta tolong
Kepala Kepolisian Sektor Beji (Depok) Ajun Komisaris Sukanda mengungkapkan, Daliu diduga tewas akibat menjadi korban penodongan. "Dugaan sementara, korban ditodong lalu melawan sehingga korban mengalami luka tusuk. Tidak ada saksi yang melihat, tidak ada yang tahu. Kami terus menyelidiki kasus ini," katanya.
Sukanda menceritakan, peristiwa pembunuhan tersebut terjadi hari Sabtu sekitar pukul 17.30 di saat hujan cukup lebat. Ketika itu korban dalam perjalanan pulang menuju rumah kosnya di Beji, tidak jauh dari Kompleks UI. "Dia pulang lewat jalan pintas, menuju ke stasiun. Waktu itu hujan cukup lebat. Petang itu suasana memang sepi," tutur Sukanda menjelaskan.
Menurut dia, keterangan yang diperoleh polisi dari tempat kejadian mengungkapkan bahwa ada seorang tukang ojek yang mendengar suara lelaki berteriak meminta tolong. Ketika diperhatikan, ternyata ada lelaki tengah berlari-lari. Lelaki yang belakangan diketahui sebagai mahasiswa UI itu tak lama kemudian terjatuh dan tergelincir ke got.
Polisi dan warga lalu membawa korban ke klinik di UI, tetapi sudah tutup. Selanjutnya korban dibawa ke Rumah Sakit Tugu Ibu di Depok. Namun, dalam perjalanan, korban tidak kuat akibat banyak darah yang keluar.
Sukanda mengungkapkan bahwa ketika peristiwa terjadi tidak ada satu saksi pun yang melihatnya. Kejadiannya berlangsung cepat dan dalam kondisi hujan cukup deras. Sampai sejauh ini polisi menduga Deliu menjadi korban penodongan. Ketika ditodong, korban melawan sehingga terjadilah peristiwa itu.
"Menurut teman-temannya, korban termasuk pendiam. Dia jarang menceritakan persoalan pribadinya kepada teman lainnya. Kami juga akan meminta keterangan dari teman-teman korban untuk mencari informasi mengenai kemungkinan motif lain dari peristiwa itu," kata Sukanda lebih lanjut. (MAS)
Monday, April 11, 2005
Saturday, April 09, 2005
Testing with photo
This was taken in Pilnitz's Castle. I was together with Mas Wikan and Mbak Aci, and friends from Potsdam and Magdeburg.
Wednesday, April 06, 2005
Tinta Merah
Baru baca di CNN: Red Ink Falling Out of Favor with Teachers
Ngomong-ngomong soal red ink alias tinta merah, kayaknya memang bener yang dibilang di artikel itu kalau warna merah itu diasosiasikan sering juga dihubungkan dengan sesuatu yang negatif dan kasar (harsh). Coba kalau kita ingat-ingat waktu masih SD paling takut kalau di rapor dapat angka merah. Terus juga dalam bahasa Indonesia sendiri, apabila ada sesuatu pekerjaan atau pencapaian yang dinilai negatif atau jelek asosiasinya juga dengan nilai merah. Terus juga orang-orang yang suka ngikutin demo-demo ketidakpuasan kepada pemerintah pasti sering atau setidaknya pernah mendengar slogan atau membaca tulisan spanduk yang menuliskan "rapor merah pemerintahan si A" dan semacamnya. Atau juga kalau seseorang hendak meminta izin melakukan sesuatu dan tidak mendapatkannya maka dikatakan "mendapat lampu merah". O iya satu lagi, contoh paling gampang ya lampu lalu lintas. Warna merah artinya harus berhenti, stop, nggak boleh jalan.
Pokoknya merah itu konotasinya jelek, kasar, negatif dan segala sebutan yang senada.
Eh tapi ternyata merah itu asosiasinya juga bisa berbeda. Coba deh perhatikan, di antara bendera-bendera negara-negara di dunia, pasti banyak yang memakai warna merah entah itu sebagai warna yang dominan atau tidak. Nah kalau dipakai buat bendera pasti artinya positif dong ya. Iya lah, kalau nggak masa' dipakai buat warna bendera sih. Contohnya aja, Indonesia. Benderanya warnanya merah putih dan diberi nama "Sang Saka Merah Putih". Orang Indonesia mestinya waktu SD pernah diajarin kalau merah di situ artinya berani. Atau di beberapa negara juga merah itu merupakan simbol darah yang menyiratkan makna pengorbanan.
Apa sih artinya sebuah warna? Sebenarnya warna merahnya mah nggak punya salah apa-apa. Wong sudah nasibnya jadi warna yang tampak seperti itu di mata manusia. Yang memberikan makna kan manusianya. Manusia memang suka membuat simbol dari apa yang ditangkap oleh panca indranya. Manusia juga suka memberikan label alias mencap sesuatu itu dengan sesuatu yang sesuai menurut panca inderanya. Bahkan kadang-kadang labelling ini sampai membuat terjadinya masalah-masalah yang sebenarnya mungkin sama sekali nggak diinginkan. Masih inget salah satu contoh di pelajaran sosiologi waktu SMA dulu. Kalau seseorang dicap/diejek "maling" oleh masyarakat terus-menerus, ya ada peluang dia bakal jadi maling beneran. Nah kalau gini siapa yang salah? Makanya mesti hati-hati juga ya menyebut seseorang dengan suatu "label", baik saya maupun Anda semua. Termasuk juga mudah-mudahan banyaknya warna merah di postingan blog kali ini tidak bikin Anda semua punya pikiran yang tidak-tidak. Ya paling parahnya sih cuma bikin sepet mata aja. Dan kalau ini sih, mohon maaf sebesar-besarnya dari saya.... :)
Ngomong-ngomong soal red ink alias tinta merah, kayaknya memang bener yang dibilang di artikel itu kalau warna merah itu diasosiasikan sering juga dihubungkan dengan sesuatu yang negatif dan kasar (harsh). Coba kalau kita ingat-ingat waktu masih SD paling takut kalau di rapor dapat angka merah. Terus juga dalam bahasa Indonesia sendiri, apabila ada sesuatu pekerjaan atau pencapaian yang dinilai negatif atau jelek asosiasinya juga dengan nilai merah. Terus juga orang-orang yang suka ngikutin demo-demo ketidakpuasan kepada pemerintah pasti sering atau setidaknya pernah mendengar slogan atau membaca tulisan spanduk yang menuliskan "rapor merah pemerintahan si A" dan semacamnya. Atau juga kalau seseorang hendak meminta izin melakukan sesuatu dan tidak mendapatkannya maka dikatakan "mendapat lampu merah". O iya satu lagi, contoh paling gampang ya lampu lalu lintas. Warna merah artinya harus berhenti, stop, nggak boleh jalan.
Pokoknya merah itu konotasinya jelek, kasar, negatif dan segala sebutan yang senada.
Eh tapi ternyata merah itu asosiasinya juga bisa berbeda. Coba deh perhatikan, di antara bendera-bendera negara-negara di dunia, pasti banyak yang memakai warna merah entah itu sebagai warna yang dominan atau tidak. Nah kalau dipakai buat bendera pasti artinya positif dong ya. Iya lah, kalau nggak masa' dipakai buat warna bendera sih. Contohnya aja, Indonesia. Benderanya warnanya merah putih dan diberi nama "Sang Saka Merah Putih". Orang Indonesia mestinya waktu SD pernah diajarin kalau merah di situ artinya berani. Atau di beberapa negara juga merah itu merupakan simbol darah yang menyiratkan makna pengorbanan.
Apa sih artinya sebuah warna? Sebenarnya warna merahnya mah nggak punya salah apa-apa. Wong sudah nasibnya jadi warna yang tampak seperti itu di mata manusia. Yang memberikan makna kan manusianya. Manusia memang suka membuat simbol dari apa yang ditangkap oleh panca indranya. Manusia juga suka memberikan label alias mencap sesuatu itu dengan sesuatu yang sesuai menurut panca inderanya. Bahkan kadang-kadang labelling ini sampai membuat terjadinya masalah-masalah yang sebenarnya mungkin sama sekali nggak diinginkan. Masih inget salah satu contoh di pelajaran sosiologi waktu SMA dulu. Kalau seseorang dicap/diejek "maling" oleh masyarakat terus-menerus, ya ada peluang dia bakal jadi maling beneran. Nah kalau gini siapa yang salah? Makanya mesti hati-hati juga ya menyebut seseorang dengan suatu "label", baik saya maupun Anda semua. Termasuk juga mudah-mudahan banyaknya warna merah di postingan blog kali ini tidak bikin Anda semua punya pikiran yang tidak-tidak. Ya paling parahnya sih cuma bikin sepet mata aja. Dan kalau ini sih, mohon maaf sebesar-besarnya dari saya.... :)
Labels:
Daily life,
Personal contemplation
Monday, April 04, 2005
Kemarin, summer semester dimulai. Belum semua kuliah mulai sih. Yang terasa berbeda dari winter semester adalah sekarang masuknya nggak terasa pagi banget (karena siang cepat datang) dan pulangnya masih sore nggak sampai malam (malamnya telat datang). Kalau pas winter biasanya pulang sudah lewat magrib atau bahkan isya' kalau summer selesai kuliah paling telat pas atau bahkan sebelum magrib (lebih seringnya lagi masih waktu ashar).
Semester ini rencananya pertama-tama harus buat laporan ke DAAD sekaligus permohonan perpanjangan beasiswa. Mesti dalam bahasa Jerman... >_<. Mudah mudahan bisa dapat perpanjangan amiin.
Semester ini rencananya pertama-tama harus buat laporan ke DAAD sekaligus permohonan perpanjangan beasiswa. Mesti dalam bahasa Jerman... >_<. Mudah mudahan bisa dapat perpanjangan amiin.
Labels:
Daily life
Saturday, April 02, 2005
Capek....
Iya capek... abis maen bola tadi siang. Badanku betul-betul out of shape. Emang sih, selama winter gak pernah olahraga... abisnya dingiiin!! Kemaren baru maen bola lagi. Parah banget, belum 5 menit udah ngos2-an ditambah lagi anginnya dingin bikin masuk angin... jadinya kayak mau muntah... :(.
On another side, mudah2-an rutin ah maen bolanya... biar bisa mendingan lah badanku. Tadi lumayan ramai juga. Bisa bikin 7 lawan 7 (?). Ada Pak Zul, Kang Winsy, Kang Aan (tapi gak ikutan main), Rizky, DJ, Rio, Pak Eldon n anak2-nya, Defa, Yusri, Hans, Joki, Christoph (si Puti juga ikutan datang -- satu2nya ibu2 yang datang), Pak Agus sama temennya dari Siria atau Yordan (lupa persisnya dari mana), siapa lagi ya? kayaknya itu aja deh... o iya Mas Wikan datang juga tapi telat...
Overall, lumayan juga first day main bola lagi. Mudah2an semuanya masih mau maen bola tiap sabtu... biar rame. semakin sering main kan semakin bikin badan lebih fit, ya nggak?
On another side, mudah2-an rutin ah maen bolanya... biar bisa mendingan lah badanku. Tadi lumayan ramai juga. Bisa bikin 7 lawan 7 (?). Ada Pak Zul, Kang Winsy, Kang Aan (tapi gak ikutan main), Rizky, DJ, Rio, Pak Eldon n anak2-nya, Defa, Yusri, Hans, Joki, Christoph (si Puti juga ikutan datang -- satu2nya ibu2 yang datang), Pak Agus sama temennya dari Siria atau Yordan (lupa persisnya dari mana), siapa lagi ya? kayaknya itu aja deh... o iya Mas Wikan datang juga tapi telat...
Overall, lumayan juga first day main bola lagi. Mudah2an semuanya masih mau maen bola tiap sabtu... biar rame. semakin sering main kan semakin bikin badan lebih fit, ya nggak?
Labels:
Daily life,
Fun-hobby-sport
Sunday, March 27, 2005
Little Excursion
Dua hari ini ikutan nemenin temennya Mas Wikan dan Mbak Aci jalan-jalan seputar Dresden. Satu keluarga dari Potsdam (bukan Postdam... :D): Mas Achmad dan istrinya Mbak Rinny, dan satu keluarga dari Magdeburg: Mas Anton, istrinya Mbak Ririn sama anaknya si Rian. Wah kalo ngeliat Rian, lucu banget, banyak sekali omongnya... :D. Ngomongnya belum jelas tapi udah lumayan banyak kosakatanya... Wah sayang belum ada fotonya nih...
Hari Sabtunya jalan-jalan muterin Zentrum, aku jadi guide amatiran hehehehe.. :D. O iya sekarang Zwinger bagian tengahnya kayaknya udah kelar renov-nya ya, soalnya udah gak ada palang2 dan galian material lagi di situ, tinggal nanamin rumput di sebagian tempat yang "ilang" rumputnya. Tapi renovasinya pindah ke bagian atas.... gak tau juga kapan kelarnya. Yang masih banyak alat-alat beratnya sih yang jelas ya sekitar Frauenkirche. Di bawahnya dibikin tempat parkir underground dan kayaknya masih banyak yang belum selesai. Terus juga di situ kayaknya mau dibangun lagi Dresden Neumarkt (ini yang aku tangkap dari info dalam bahasa Jerman... mudah2an gak salah... :p). All in all, meskipun sebenarnya cantik, tapi masih ancur dan belepotan nih wajah Zentrum-nya Dresden.
Hari Ahadnya kita ke Pilnitz. Elbe airnya sedang pasang. Ketinggian airnya di penakar air di Pilnitzer Schloss menunjukkan angka 5 meter. Pantesan kemaren Mas Gun kirim e-mail bilang liat berita di tivi kalo Dresden banjir. Ternyata emang beneran banjir tapi bukan di Dresdennya melainkan lebih ke arah hulunya Elbe. Sepertinya sih ini akibat suhu yang mulai hangat jadinya gletser di hulu Elbe sebagian mencair sehingga volume airnya nambah. Untungnya gak banjir besar kayak tahun 2002 yah...
Omong-omong, jadi kangen berat euuy sama yang di rumah... mudah-mudahan dimudahkan Allah buat berkumpul lagi. Amiin.
Hari Sabtunya jalan-jalan muterin Zentrum, aku jadi guide amatiran hehehehe.. :D. O iya sekarang Zwinger bagian tengahnya kayaknya udah kelar renov-nya ya, soalnya udah gak ada palang2 dan galian material lagi di situ, tinggal nanamin rumput di sebagian tempat yang "ilang" rumputnya. Tapi renovasinya pindah ke bagian atas.... gak tau juga kapan kelarnya. Yang masih banyak alat-alat beratnya sih yang jelas ya sekitar Frauenkirche. Di bawahnya dibikin tempat parkir underground dan kayaknya masih banyak yang belum selesai. Terus juga di situ kayaknya mau dibangun lagi Dresden Neumarkt (ini yang aku tangkap dari info dalam bahasa Jerman... mudah2an gak salah... :p). All in all, meskipun sebenarnya cantik, tapi masih ancur dan belepotan nih wajah Zentrum-nya Dresden.
Hari Ahadnya kita ke Pilnitz. Elbe airnya sedang pasang. Ketinggian airnya di penakar air di Pilnitzer Schloss menunjukkan angka 5 meter. Pantesan kemaren Mas Gun kirim e-mail bilang liat berita di tivi kalo Dresden banjir. Ternyata emang beneran banjir tapi bukan di Dresdennya melainkan lebih ke arah hulunya Elbe. Sepertinya sih ini akibat suhu yang mulai hangat jadinya gletser di hulu Elbe sebagian mencair sehingga volume airnya nambah. Untungnya gak banjir besar kayak tahun 2002 yah...
Omong-omong, jadi kangen berat euuy sama yang di rumah... mudah-mudahan dimudahkan Allah buat berkumpul lagi. Amiin.
Saturday, March 19, 2005
Tadi siang Adindaku kirim sms. Katanya lagi ada project baru :). Oke deh. Cuma mau ngucapin "keep up the spirit". Mudah-mudahan sukses. Amiin.
Labels:
Daily life,
Family
Subscribe to:
Posts (Atom)